Pencarian

12 July 2010

Di Balik 'Gerhana Senja' (baca : Twilight Eclipse)

2 hari yang lalu, aq banyak 'direcoki' dengan acara pernikahan teman-teman q. Disamping jebolnya dompet yang membuat miris (*hiperbolis) aq juga turut merasa iri bahagia dengan laju tingkat keberhasilan musim kawin tahun ini.

Ngomong-ngomong soal kawin pernikahan, menginjak di usia yang hampir separuh usia normal untuk ukuran orang indonesia, pertanyaan seperti kapan nikah? atau kapan kirim undangan ? sudah bukan hal yang asing mampir di telinga q. Saking seringnya, mungkin kuping q hanya mengganggap angin lalu atau nyamuk lewat *ngiiiinggg...

Hehe.. :D Kebetulan pas weekend aq bareng jenk ella, menyempatkan diri melihat romantisme dua sejoli yakn isi cantik Kristen 'Bella' Stewart dan cowoknya, Robert 'Edward' Patinson di dalam sebuah layar lebar dalam balutan Twilight Saga 'Eclipse' yang tak ketinggalan mengajak aktor penuh kharisma *menurut aq, si serigala raksasa Taylor 'Jacob' Lautner @___@

Di awal film, sudah banyak disinggung soal keraguan 'Bella' dengan lembaga yang oleh banyak orang di atasnamakan dengan cinta, yaitu pernikahan. Sebagai seorang gadis di era modern, konon 'Bella' menganggap ajakan menikah hanya kata lain untuk 'aq sudah hamil' (Maried By Accident). Sedangkan si Charming Dracula "Edward' yang sudah hidup abadi hingga beratus-ratus tahun, tetap berpegangan pada prinsip 'kuno' tentang pernikahan yang mengikat cinta sejati antara laki-laki dan perempuan, terlepas mereka itu vampir, drakula, werewolf ataupun manusia.

Inti pembicaraan q ini apa sih? Yang jelas, jika ingin hidup di Indonesia dengan adat belalangnya yang sangat menjunjung tinggi bidaya 'Timur', prinsip Bella tidak boleh di anut. Lantas, apakah aq juga harus mencari seorang vampir serupa 'Edward Cullen' yang hidup ratusan tahun lampau hanya untuk mendengar ajakan --'will you do me the extraordinary honor of marrying me???”--.

*In the book he says “Isabella Swan, I promise to love you forever–every single day of forever. Will you marry me? ...


29 January 2010

Witing Tresno, Jalaran Soko Kuliner Ing Ringin Asri

Pemberian nama "Ringin Asri" rasanya sangat pas dilihat dari lingkungan dan halaman rumah makan ini yang cukup asri dan teduh, sebab terdapat pohon beringin yang berukuran besar dan menjadi ikon tempat ini.

Konon pohon beringin yang sudah ada sejak zaman kerajaan Mataram dan berumur kurang lebih 200 tahun ini merupakan kuburan dari seekor gajah kesayangan raja. Bahkan, di kalangan masyarakat tumbuh kepercayaan jika pohon beringin ini memiliki yoni yang bisa melancarkan jodoh seseorang. Sudah lebih dari 30 pasangan yang bertemu di rumah makan ini bisa berlanjut hingga ke jenjang pernikahan. Anda boleh percaya boleh tidak ? Karena kebenaran yoni tersebut tidak ada seorang pun yang tahu.

Mungkin dari pemandangan dan suasana malam hari yang bisa dibilang cukup menebarkan atmosfer romantis, tak heran jika banyak muda-mudi kota Malang yang berjodoh di tempat ini. Tata indah lampu-lampu temaram di setiap sudut rumah makan dengan iringan lagu cinta kian menambah kegembiraan saat makan.

Bicara soal makan, menu masakan Jawa menjadi primadona di sini. Mulai dari ayam kampung penyet hingga nasi pecel. Ayam kampung penyet dipatok harga Rp12.500 teksturnya lembut, empuk dan rasanya enak. Terbuat dari daging ayam kampung yang muda. Disajikan bersama sambal tomat yang diulek, serta lalapan hijau seperti mentimun, daun kemangi, dan kacang panjang.

Untuk minumannya, yang terkenal ada Es Gandul Tali Merang yang telah dimodifikasi lebih menarik dengan campuran aneka cocktail buah seperti pepaya, nanas, juga leci yang disiram oleh sirup merah manis.

Rumah makan Ringin Asri setiap harinya laris dikunjungi oleh pembeli. Pengunjungnya pun beragam, cukup banyak artis dan penyanyi Ibukota yang mampir. Mulai dari pelawak seperti Kirun hingga rock band "Dewa 19". Hal ini terlihat dari pajangan aneka tanda tangan, komentar dan kesan dari para selebritis Indonesia di dinding ruang makan. Jadi, pengunjung juga bisa melihat-lihat siapa saja yang pernah mampir di rumah makan ini.

Jam operasional pkl. 08.00-22.00 WIB. Bagi Anda yang ingin hubungan dengan pasangan ke komitmen yang lebih serius, gak ada salahnya kan coba-coba makan malam romantis bersama kekasih ke Ringin Asri, Jl. Soekarno Hatta 45 Malang.

* :D Hi guyss... lama gak nulis nih

20 June 2009

Istana Tuan Meneer Bussemaker

Ada yang bilang, kalo belum ke malang , berarti belum ke jawa timur hehehe... berhubung sekarang udah mulai liburan sekulah, sapa tau ada yg lg merencanakan backpacker 'n kuliner ke kota Apel ini, namun selain menjajal obyek wisata dan makanan khas daerah, dibalik keindahan tata kota nya tersimpan beribu sejarah budaya yang menjadi saksi bisu perjuangan arek malang melawan hollanders.

Di belakang saya berpose, berdiri megah sebuah bangunan yang menjadi landmark kota Malang, Tepat berhadapan dengan Tugu Nasional yang diresmikan langsung di bawah tangan sang Proklamator Soekarno, gedung yang eksis dari tahun 1927 hingga kini, yakni gedung Balai Kota Malang.

Awal pembangunan gedung Balai Kota Malang ini diawali pada tanggal 1 April 1914, status kota Malang dinaikkan menjadi Kotamadya (sebelumnya masih menjadi karesidenan Pasuruan), sehingga kota Malang berhak memiliki otonomi daerahnya sendiri dengan di pimpin seorang Burgemeester (Walikota). Adalah Bapak Bussemaker, pria Belanda berkumis tebal dengan rambut tipis dan berwajah rupawan inilah yang berhasil menduduki kursi panas Walikota Malang pertama kali pada tahun 1919.


Gedung ini sempat pula di bangun kembali dari reruntuhan bekas Clash I (aksi militer) pada tanggal 31 juli 1947, setelah proklamasi kemerdekaan, eee.. Belanda secara tiba-tiba kembali menduduki Indonesia termasuk kota Malang, sehingga lebih dari 1000 bangunan Belanda dibumi hanguskan dan pemerintahan kota secara temporer di pindah ke Hotel Pelangi (dekat alun-alun Malang).

Selanjutnya pegawai dibagi menjadi dua golongan, yakni golongan yang berjuang tetap di dalam kota dan golongan keluar kota, menyebar ke daerah Sumberpucung, Gondanglegi, Bantur ( daerah pantai Balaikambang) sampai Clash II tahun 1948.


Para pejuang yang tergabung dalam tentara pelajar (TRIP) banyak yang gugur. Rakyat sendiri mengungsi ke daerah Selatan seperti Tumpang (rumahku ), Wajak , Turen, Gondanglegi, Pakisaji, Kepanjen, sampai Blitar.


Pemerintahan kota Malang dapat kembali ke gedung Balaikota pada tanggal 2 Maret 1950, sementara itu ketentaraan dan kepolisian telah mendahului memasuki kota dan bermarkas di hotel TRIO (sekarang di depan Stasiun Kota Baru).

Saya sering mengamati gedung-gedung peninggalan penjajah saat singgah di beberapa kota (Surabaya, Semarang, Jakarta), sekilas saya seperti mendapat visualisasi betapa banyak perjuangan dan pengorbanan darah serta air mata para pahlawan yang telah gugur untuk menikmati udara bebas, bahkan di tanah kelahirannya sendiri. Katanya Bu guru SD, "bangsa yang besar selalu menghargai jasa para pahlawan", tapi masih saja sering terdengar nyanyian sumbang para veteran yang tak terurus negara hingga menjadi pengamen, miris memang, tapi jangan kaget melihat ironi seperti ini di Indonesia...

Betapa uptodate dan maju nya peradaban qt, semua dimulai dari sejarah, boleh lah sesekali qt mendengar cerita soal Smallville, Prison Break, Heroes, Supernatural buatan eks penjajah, namun jangan lupa cerita soal sejarah yang menjadikan qt ada dan bisa hidup bebas hingga sekarang... MERDEKA!.


* catatan : lg pengen nulis

03 June 2009

Ati-ati, nulis curhatan di Internet bisa dipenjara

Prita Mulyasari, seorang karyawati Bank Swasta di Jakarta tidak bisa lagi menghirup udara bebas pada 13 Mei lalu. Ibu dari 2 orang batita (bawah tiga tahun) itu, berada di balik jeruji besi karena "keberanian" nya untuk mencurahkan isi hatinya ke suara pembaca di situs detik.com tentang kejadian yang telah menimpanya saat berobat ke RS Omni International.

Sebagai seorang blogger dan masyarakat biasa (wong cilik), suara pembaca memang menjadi media yang pas, untuk menyampaikan segala keluhan kita sebagai konsumen yang dalam ilmu customer service di-elukan sebagai "raja dan ratu" tentu dalam lingkaran kesopanan dan etika yang masih rasional.


Dikatakan Jenk Prita , bahwa pada bulan Agustus 2008 dirinya datang untuk berobat ke RS omni International dengan keluhan pusing dan demam, setelah mendapat penanganan medis dari suster dan dokter Hengky, hasil lab menyatakan trombosit jenk Prita turun dari normal 200.000 hanya tinggal 27.000 , atas nilai ini pihak RS Omni memvonis dirinya mengidap demam berdarah. Selanjutnya seperti pasien yang tekena DB, infus dan suntikan bertubi-tubi dialirkan ke pembuluh darahnya, hingga dosis yang semakin naik yang menyebabkan jenk Prita Mulyasari mengalami sesak napas sekali dalam seumur hidupnya. Tentu sebagai seorang pasien, hal ini sangat mengherankan dan yang lebih mencengangkan pada saat ditanyakan ke dokter mengenai penyakit apa yang sebenarnya di derita, sang dokter menjawab ia terkena virus udara dan trombositnya sebelumnya 27.000 diralat menjadi 181.000 karena kesalahan analisa laboratorium.

Okee... sebenarnya tidak ada yang salah atau benar dalam kasus ini, selama penanganan dan manajemen pihak RS. Omni mau memberi keterangan dan penjelasan yang sudah nyata merupakan hak setiap konsumen/pasien. Jenk Prita juga berhak menulis keluhan di surat pembaca karena hal ini juga mendapat perlindungan dari Undang-undang, hanya saja kata-kata nya yang terlalu "menyinggung" orang lain (dokter hengky) yang berbuntut persidangan dan penahanan di LP.

Kalo dokter jaman sekarang mencemari tugas mulia dunia akhirat ini, hanya karena tamak harta, pantas lah jika masyarakat lebih percaya pada Ponari, si bocah SD...

01 May 2009

Semalam di Gaza

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they're dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who's wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

--Berapa banyak lagi air mata dan darah yang tumpah atas nama kedamaian?--

*) lagu Michael Heart ini memang sangat menyentuh hati, setidaknya bukan hanya kaum muslim sendiri yang mengecam tragedi Gaza, tapi juga seluruh umat manusia yang masih memiliki hati nurani mengutuk keras tragedi ini...

Lihat lagu disini :
We will not go down
 

Jenk Dhetea Template by Ipietoon Cute Blog Design