Ngomong-ngomong soal
Hehe.. :D Kebetulan pas weekend aq bareng jenk ella, menyempatkan diri melihat romantisme dua sejoli yakn isi cantik Kristen 'Bella' Stewart dan cowoknya, Robert 'Edward' Patinson di dalam sebuah layar lebar dalam balutan Twilight Saga 'Eclipse' yang tak ketinggalan mengajak aktor penuh kharisma *menurut aq, si serigala raksasa Taylor 'Jacob' Lautner @___@.jpg)
Di awal film, sudah banyak disinggung soal keraguan 'Bella' dengan lembaga yang oleh banyak orang di atasnamakan dengan cinta, yaitu pernikahan. Sebagai seorang gadis di era modern, konon 'Bella' menganggap ajakan menikah hanya kata lain untuk 'aq sudah hamil' (Maried By Accident). Sedangkan si Charming Dracula "Edward' yang sudah hidup abadi hingga beratus-ratus tahun, tetap berpegangan pada prinsip 'kuno' tentang pernikahan yang mengikat cinta sejati antara laki-laki dan perempuan, terlepas mereka itu vampir, drakula, werewolf ataupun manusia.
Inti pembicaraan q ini apa sih? Yang jelas, jika ingin hidup di Indonesia dengan adat belalangnya yang sangat menjunjung tinggi bidaya 'Timur', prinsip Bella tidak boleh di anut. Lantas, apakah aq juga harus mencari seorang vampir serupa 'Edward Cullen' yang hidup ratusan tahun lampau hanya untuk mendengar ajakan --'will you do me the extraordinary honor of marrying me???”--.
*In the book he says “Isabella Swan, I promise to love you forever–every single day of forever. Will you marry me? ...
Pemberian nama "Ringin Asri" rasanya sangat pas dilihat dari lingkungan dan halaman rumah makan ini yang cukup asri dan teduh, sebab terdapat pohon beringin yang berukuran besar dan menjadi ikon tempat ini.
Rumah makan Ringin Asri setiap harinya laris dikunjungi oleh pembeli. Pengunjungnya pun beragam, cukup banyak artis dan penyanyi Ibukota yang mampir. Mulai dari pelawak seperti Kirun hingga rock band "Dewa 19". Hal ini terlihat dari pajangan aneka tanda tangan, komentar dan kesan dari para selebritis Indonesia di dinding ruang makan. Jadi, pengunjung juga bisa melihat-lihat siapa saja yang pernah mampir di rumah makan ini.
Awal pembangunan gedung Balai Kota Malang ini diawali pada tanggal 1 April 1914, status kota Malang dinaikkan menjadi Kotamadya (sebelumnya masih menjadi karesidenan Pasuruan), sehingga kota Malang berhak memiliki otonomi daerahnya sendiri dengan di pimpin seorang
Gedung ini sempat pula di bangun kembali dari reruntuhan bekas